Wakamad MI Miftahul Akhlaqiyah Raih Doktor, Kamad: Kami Sangat Bangga

Dr. H. Moh. Miftahul Arief bersama Kepala MI Miftahul Akhlaqiyah H. Rif’an Ulil Huda, Kasi Pendidikan Madrasah Kota Semarang, Pengawas Madrasah, dan rekan guru MI Miftahul Akhlaqiyah usai Ujian Terbuka Promosi Doktor di UIN Walisongo Semarang. Foto ist.

Semarang - Wakil Kepala MI Miftahul Akhlaqiyah Ngaliyan, Kota Semarang, Moh. Miftahul Arief, resmi meraih gelar Doktor Studi Islam dari UIN Walisongo Semarang.

Arief dinyatakan lulus setelah mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi S-3 Studi Islam Pascasarjana UIN Walisongo, Rabu, 30 September 2026.

Ujian terbuka yang dipimpin langsung Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag., tersebut menetapkan Arief lulus dengan nilai 3,98.

"Kepadanya diberi gelar Doktor Studi Islam, dan merupakan doktor ke-456 yang telah diluluskan oleh UIN Walisongo," kata Prof. Musahadi.

Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Kepala MI Miftahul Akhlaqiyah, H. Rif’an Ulil Huda. Menurutnya, gelar doktor yang diraih Arief tidak hanya menjadi capaian personal, tetapi juga menambah kualitas sumber daya manusia (SDM) madrasah.

"Alhamdulillah, Pak Arief telah menjadi doktor. Ini luar biasa dan tentu menambah kualitas SDM MI Miftahul Akhlaqiyah," ujarnya, Senin 5 Oktober 2026.

Rif’an menilai capaian tersebut semakin membanggakan karena Arief meraih nilai 3,98 dalam ujian promosi doktor.

"Ini luar biasa, sangat membanggakan. Semoga bisa menjadi pemicu teman-teman lain untuk senantiasa semangat belajar lebih lanjut," sambungnya.

Direktur Pascasarjana: Pembelajar Sejati


Apresiasi juga datang dari Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Muhyar Fanani, M.Ag. Ia menilai Arief merupakan sosok pembelajar yang mampu menjadikan setiap fase kehidupan sebagai ruang untuk tumbuh dan mengembangkan diri.

"Dr. Arief adalah seorang pembelajar sejati. Setiap langkahnya dapat dijadikannya sebagai media belajar. Saya teringat dengan perkataan almarhum Prof. Satjipto Rahardjo bahwa seorang intelektual itu berbicara dengan pena. Dr. Arief benar-benar mempraktikkan hal ini," ujar Prof. Muhyar.

Menurut Prof. Muhyar, kemampuan literasi dan kepenulisan juga menjadi salah satu kekuatan Arief.

"Kemampuan menulisnya di atas rata-rata mahasiswa kami," tegasnya.

Ia meyakini pengalaman Arief sebagai guru, pengelola madrasah, jurnalis, penulis, dan praktisi pendidikan akan menjadi modal untuk terus berkiprah bagi masyarakat.

"Saya yakin, Dr. Arief akan bisa berkiprah dalam banyak hal bagi masyarakat melalui madrasah dan dunia pendidikan secara luas. Tugas dalam dunia pendidikan tidak pernah ada habisnya. Tantangan muncul silih berganti. Selama masih ada manusia, pendidikan akan selalu dibutuhkan," lanjutnya.

Prof. Muhyar menambahkan, perubahan zaman dapat mengubah pendekatan dan metode pendidikan. Namun, prinsip pendidikan tetap sama, yakni membentuk manusia yang memiliki akal budi dan kebijaksanaan.

"Mungkin caranya akan berubah. Namun, prinsipnya tetap sama yaitu mempertajam akal budi anak manusia agar mampu menata hidupnya dengan bijaksana," pungkasnya.

Teliti Strategi Pemasaran MI Perkotaan


Arief meraih gelar doktor setelah mempertahankan disertasi berjudul Urban Marketing: Strategi Pemasaran Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada Masyarakat Perkotaan.

Penelitian tersebut berangkat dari fenomena menurunnya jumlah siswa Madrasah Ibtidaiyah di sejumlah kota besar di Pulau Jawa. Di sisi lain, beberapa MI di Kota Semarang justru menunjukkan pertumbuhan positif.

Untuk melihat fenomena tersebut, Arief melakukan penelitian multisitus di MI Nurul Islam Ngaliyan, MI Tarbiyatul Khairat Pedurungan, MI Taufiqiyah Tembalang, dan MI Nashrul Fajar Tembalang.

Penelitian itu menemukan bahwa pilihan masyarakat perkotaan tidak lagi hanya ditentukan oleh faktor agama atau kedekatan lokasi sekolah. Mutu pendidikan, pelayanan, keamanan, komunikasi, dan reputasi lembaga juga menjadi pertimbangan penting.

"Saya menemukan bahwa masyarakat perkotaan tidak lagi memilih madrasah hanya karena faktor agama atau kedekatan lokasi. Mereka juga mempertimbangkan mutu, pelayanan, keamanan, komunikasi, dan reputasi lembaga," ungkapnya.

Temuan tersebut kemudian dihubungkan dengan strategi Segmenting, Targeting, Positioning (STP) dan bauran pemasaran 7P.

Menurut Arief, pemasaran madrasah tidak cukup dimaknai sebagai promosi untuk mendapatkan peserta didik baru. Strategi tersebut perlu berjalan bersama peningkatan mutu layanan dan kepercayaan masyarakat.

"Urban Marketing bukan hanya strategi merekrut siswa. Ini adalah ikhtiar menghadirkan layanan pendidikan yang bermutu, profesional, sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai Islam," jelasnya.

Temukan Empat Tipologi Pemasaran Madrasah


Dari penelitian tersebut, Arief merumuskan kebaruan berupa Urban-Spiritual Resonance Model. Model ini mempertemukan pendekatan pemasaran modern dengan kekuatan nilai spiritual yang menjadi identitas madrasah.

Model tersebut melahirkan empat tipologi pemasaran madrasah yang adaptif terhadap karakter masyarakat perkotaan.

Pertama, Professional-Premium, yaitu madrasah yang mengedepankan profesionalisme, layanan unggul, dan citra kelembagaan yang kuat.

Kedua, Balanced-Moderate, yakni madrasah yang menggabungkan mutu akademik, pendidikan karakter, dan keterjangkauan layanan.

Ketiga, Achievement-Inclusive, yang mengutamakan prestasi akademik maupun nonakademik, tetapi tetap inklusif dan terbuka bagi berbagai lapisan masyarakat.

Keempat, Grassroots-Authentic, yang bertumpu pada kedekatan sosial masyarakat, budaya lokal, dan nilai-nilai keagamaan yang hidup di lingkungan madrasah.

"Setiap madrasah tidak harus menjadi sama. Mereka dapat memilih model yang paling sesuai dengan karakter masyarakat, lingkungan, dan kekuatan yang dimiliki masing-masing," tegasnya.

Penelitian tersebut juga menemukan fenomena Demand Surplus Indicator berupa sistem inden pendaftaran, loyalitas keluarga lintas generasi, serta rekomendasi wali murid yang berkembang secara organik, termasuk melalui ruang digital.

Dari temuan itu, Arief melihat bahwa promosi hanya akan efektif jika berjalan beriringan dengan mutu layanan dan kepercayaan masyarakat.

"Madrasah yang berhasil bukan yang paling gencar berpromosi. Madrasah yang berhasil adalah madrasah yang mampu menghadirkan mutu dan kepercayaan secara konsisten," imbuhnya.

Dari Guru hingga Kepala MI Miftahul Akhlaqiyah


Perjalanan Arief di dunia pendidikan telah berlangsung lebih dari dua dekade. Ia mulai menjadi guru pada 2005.

Lima tahun kemudian, Arief dipercaya menjadi Kepala MI Miftahul Akhlaqiyah dan memimpin madrasah tersebut pada 2010–2022. Setelah itu, ia tetap berkiprah di madrasah sebagai wakil kepala.

Pada 2020, Arief dinobatkan sebagai Kepala Madrasah Berprestasi oleh Kementerian Agama Kota Semarang.

Di luar madrasah, sejak 2014 ia juga mengembangkan Bimbingan Belajar AIO, lembaga les privat yang dikenal dengan nama Aioprivat. Ia menjadikan usaha tersebut sebagai ruang untuk menerapkan kemampuan manajerial pendidikan sekaligus sumber penghasilan.

"Alhamdulillah, saya mendirikan Bimbel AIO atau dikenal orang Aioprivat karena basic saya guru dan memiliki pengalaman manajerial pendidikan, ya itung-itung berbisnis sekaligus penyaluran skil," bebernya.

Aktivitas jurnalistik juga berjalan beriringan dengan kiprahnya di dunia pendidikan. Arief menjalani profesi sebagai jurnalis Majalah AULA NU.

Ia juga merupakan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah serta mendirikan dan menjadi pemimpin redaksi EDUKASIA.ID dan BeritaHaji.id.


Pernah Jualan Koran hingga Menjaga Toko Buku
Perjalanan Arief menuju gelar doktor berlangsung melalui berbagai pengalaman pekerjaan.

Semasa kuliah, ia pernah berjualan koran di lampu merah Kalibanteng, samping Museum Ranggawarsita Semarang, untuk membantu membiayai hidup dan pendidikannya.

Saat mulai menjadi guru pada 2005, ia juga menjalani pekerjaan lain. Pagi hingga siang mengajar, kemudian menjaga salah satu outlet Toko Buku Gramedia Pandanaran Semarang hingga pukul 22.00 WIB.

"Saat menjadi guru MI, pagi mengajar, siang hingga malam menjaga outlet di Gramedia Pandanaran. Saat itu yang saya pikirkan sederhana, bagaimana tetap bisa belajar sambil bekerja," kenangnya.

Bersama istrinya, Arief juga pernah menjalankan usaha pengetikan komputer di rumah dengan bermodal satu komputer lama.

Ia berprinsip bahwa pekerjaan apa pun dapat dijalani selama halal dan thayib atau baik. Prinsip tersebut juga membuatnya tetap menjalani pekerjaan sampingan sebagai pengemudi taksi online.
Disertasi Ditulis Sambil Menjaga Ibu

Di tengah proses menyelesaikan penelitian, Arief harus membagi waktu dengan keluarga. Sang ibu yang mengalami penyakit komplikasi berulang kali menjalani perawatan di RSUP Dr. Kariadi Semarang.

Arief turut mendampingi proses pengobatan tersebut. Saat menunggu sang ibu di rumah sakit, ia menggunakan waktunya untuk menyelesaikan berbagai bagian disertasi.

"Sebagian disertasi ini saya kerjakan di kamar geriatri RS Kariadi. Saat ibu dirawat, saya menunggu sendiri, mengantar dan menjemput beliau, sekaligus menyelesaikan berbagai bagian penelitian di samping tempat tidurnya," ujar pengurus IKA PMII Walisongo itu.

Aktivitas tersebut bahkan menjadi pemandangan yang akrab bagi para perawat di bangsal geriatri.

"Beberapa perawat sampai hafal. Mereka sering melihat saya membuka laptop dan menulis disertasi di sela-sela menjaga ibu," lanjutnya.

Arief sempat berharap sang ibu dapat menyaksikan langsung promosi doktor yang telah diperjuangkannya. Namun, harapan tersebut tidak terwujud karena ibunya telah berpulang tepat setahun sebelum ujian terbuka.

"Harapan saya ibu bisa menyaksikan promosi doktor ini. Namun Allah memiliki rencana lain. Tepat setahun yang lalu ibu telah lebih dahulu berpulang," tuturnya.

Menurutnya, gelar doktor yang kini disandangnya tidak hanya menjadi capaian akademik pribadi.

"Doktor ini bukan hanya milik saya. Ada doa, pengorbanan, dan perjuangan ibu saya, perempuan hebat yang tak lulus Madrasah Aliyah dan memeras keringat demi pendidikan anak-anaknya," katanya sambil berkaca-kaca.